Banner 468 x 60px

 

Kamis, 14 Maret 2013

Konser Magenta Movie Ochestra

0 komentar

Konser Magenta Movie Ochestra Akhirnya nonton konser lagi. Kali ini bersama Jeng Meidy, Jeng Melani, Jeng Tifa, dan Abang Ziko, kita nonton Magenta Orchestra Andi Rianto yang diadakan hari Rabu, 14 Mei 2008 Plenary Hall, Jakarta Convention Centre. Tema konsernya adalah 'A Musical Tribute to Indonesian Movie Andi Rianto'. Perasaan yang tadinya seneng jadi LEBIH SENENG LAGI.... Selain ada orchestranya, juga ada cuplikan beberapa filmnya.

Konser Magenta Ochestra kali ini membawakan lagu-lagu dari soundtrack film Indonesia, dari yang jadul banget tapi sudah diaransemen ulang seperti (film Galih dan Ratna, Catatan si Boy, 3 Dara (nah untuk yang satu ini ikka ga tau dech mungkin 3 divanya jaman nenek ikka kali yaaaa), selain itu juga mereka memainkan beberapa soundtrack filmnya Warkop DKI dan Benyamin), untuk film masa kininya seperti badai pasti berlalu, Heart, Dealova, Cinta Pertama, Cintapuccino, Arisan, Jablai, 9 Naga, Kuntilanak, dll.
Dari semuanya yang paling ngena banget adalah saat soundtracknya Kuntilanak berpadu dengan paduan suara menjadikan lebih enerjik dari yang lain, dengan alunan musik mereka bisa bikin tuch film tambah menakutkan dan bisa bikin merinding, ditambah lagi sebelum itu ada yang nyinden berdandan seperti kuntilanak.
Suasana yang terbangun mendengarkan permainan mereka yang nyaring enak didengar dipadukan dengan artis-artis ternama seperti DI3VA, Mike Mohede & Jaclyn Victor, Ari Lasso, Iwa K & Selvi KDI, RAN, Slamet Rahardjo, Lucky Octavia, Anissa, Farman Purnama, dan D'Cinnamons. Beberapa lagu-lagu yang dibawakan membangun atmosfer ceria, romantik dan easy listening.
Ikka beri dua jempol buat performance duet Mike dan Jaclyn yang amat indah mengawinkan kedua suara mereka. Kekuatan suara Mike benar-benar gila banget. Ini yang Ikka maksud sebagai suntikan mental yang baik, sesuatu yang mampu mendamaikan serta menggetarkan hati Ikka seketika ketika Ikka ngedenger musiknya dan suara dia.
Selama konser berjalan, aduchhh semuanya sudah oke tapi kenyamanan tempat duduknya itu benar-benar membuat kaki Ikka dua kali kesemutan. Tak lupa pula Ikka menyalurkan hobi juga sambil bernyanyi, bersenandung, goyang-goyang dikit mengikuti alunan musik.
Makasih Jeng Mey atas tiketnya. Buat Jeng Mel yang udah ngambil fotonya, dan buat Jeng Tifa dan bang Ziko yang udah nemanin selama konser berlangsung.
 print this page Print this page
Read more...

Menikmati Pulau Pahawang, Teluk Lampung

3 komentar

Menikmati Pulau Pahawang, Teluk Lampung Akhirnya setelah terakhir nulis tentang pengalaman ke tempat yang masih jarang dikunjungi tentang Pulau Sangiang "Sejuta Pesona Pulau Sangiang" sekarang baru ada kesempatan lagi buat sharing tentang perjalanan ke beberapa pulau di Teluk Lampung. Lampung... yaa waktu itu aku wara - wiri di Lampung, setelah pernah ikut ke Taman Nasional Way Kambas bersama rekan-rekan Share Traveler, lalu ke Taman Nasional Gunung Krakatau dan Hooping Island di pulau - pulau sekitar Krakatau bersama teman - teman Backpacker Indonesia, kemudian ikutan Touring dari Bandar Lampung ke Kiluan bersama teman-teman Backpacker Community Lampung. Waktu itu aku dibuat penasaran dengan pulau-pulau yang berada di Teluk Lampung.


Semua berawal dari keisengan diri yang suka menatap google map melihat-lihat pulau-pulau apa saja di bagian utara Pulau Jawa mulai dari ujung timur sampai ujung barat. Yaa paling ujung timur masih ada Kangean dan Pulau Bawean yang ternyata cukup butuh waktu yang lama kalau harus berkunjung ke sana. Kangean yang harus melintasi Madura terlebih dahulu baru ke Kangean, dan kalau ke Pulau Bawean melalui pelabuhan di Gresik . Susur susur Google Map sampailah ke sisi yang paling barat dan cursor mouse pun malah mengarah dan ngezoom ujung Pulau Sumatera. Yap.... Ternyata banyak pulau di sana.. setelah nyari tau dari berbagai peta dan informasi mengenai lokasi , aku mengemas informasi petanya menjadi seperti ini. (Jika ada kesalahan mohon di infokan ya... biar bisa saya perbaiki).

Setelah mendapatkan nama dari pulau - pulau yang terdapat di teluk Lampung ini, saya pun mulai melanjutkan mencari informasi detail setiap pulau tersebut dan ternyata sangat sedikit sekali informasinya. Dengan bermodal yang telah didapat lalu lihat kalender akhirnya ada libur kejepit di bulan Mei yang lalu. Ya... 16 Mei - 21 Mei 2012 mau sedikit nekat melakukan petualangan di Teluk Lampung. Sebelum tanggal kepergian sempat share plan di status Facebook dan ada tiga orang yang mau ikutan nekat explore Teluk Lampung ini. Plan destinasi - rute - budget sudah dibikin walau ini saya yakin akan beda dengan hari H tapi setidaknya biar ada bayangan.

Dari pulau - pulau yang berada di teluk Lampung saya coba fokuskan ke Kabupaten Pesawaran yang terdiri atas 7 kecamatan seperti Padang Cermin, Punduh Pidada, dll. Pesawaran memiliki 37 (tiga puluh tujuh) pulau. Seperti apa penampakkannya saya ga tau saat itu tapi harapannya bisa ke semuanya tapi akan tetap realistis lihat kondisi di sana nanti. 37 pulau ini berada di teluk Lampung Selatan bagian barat. Pulau-pulau ini akan dilewati jika kita ke Kiluan, memang tidak terlihat dari jalanan karena harus nyebrang dulu menggunakan perahu.
Rabu 16 Mei 2012, sepulang kerja sekitar jam 8 malam saya dan rekan-rekan (Uchie, Vivi, dan Husni) janjian di Slipi Jaya. Karena ga begitu tau akan seperti apa trip kali ini maka barang bawaan pun lengkap menurut edisi saya. Setidaknya tenda, sleeping bag, perlengkapan snorkeling saya bawa hari itu. Kami hanya sepakat pingin fun, ga mau terlalu dipusingkan destinasi atau dikejar - kejar waktu, sedangkan untuk biayanya karena ini lebih dari dua hari jadi sebisa mungkin kami lebih cermat dalam biaya namun tetap memilih kenyamanan dan kenikmatan :D
Sampai di Pelabuhan Merak sekitar jam 12 malam dan langsung membeli karcis untuk kapal menyeberang dari Merak menuju Bakauheni. Karena masih malam kami memilih masuk ke ruang VIP. Ternyata kami tidak beruntung karena kapal yang kami naiki tidak bagus dan bahkan sudah tua, ruang VIP yang AC nya ga dingin sama sekali. Kalau gelar tikar di situ bayar lagi dan bantalan juga bayar lagi ckckckck... ternyata beda kapal beda fasilitas dan beda kenyamanannya.
Ga berasa ternyata sampai di Bakauheni subuh sekitar jam 5. Ketika kapal mau bersandar merapat ke pelabuhan Bakauheni saya sempat ngobrol dengan penumpang lain untuk nanya transportasi ke pantai Klara. Dengan baik hati mbak-mbak di sebelahku ngasih tau kalau ke Pantai Klara ada beberapa alternatif dengan angkutan umum yang akan berganti ganti sampai tiga kali via terminal Rajabasa atau bisa memilih travel dan kemudian lanjut angkutan kecil. Dia menyarankan kami untuk memilih travel yang harganya tidak terpaut jauh bahkan tegolong cepat dan nyaman.
Di luar nanti banyak yang nawarin jasa travel biasanya mereka menawarkannya dengan kata "Teluk... Teluk.." nahh travel ini yang akan kita tuju. Sesampainya di luar ternyata banyak yang nawarin dengan harga yang bervariasi... tadi ada ibu-ibu yang sedang menunggu mobil travel yang memang biasa dia naiki namanya Travel Tegas dan harganya 35 ribu. Si ibu tadipun menawari bareng saja sama saya kalau mau ke teluk nanti saya bantu arahkan kendaraan setelah dari travel ini. Emm... Travel Tegas ini mobil Avanza AC jadi cukup lumayan nyaman. Sebelumnya baca-baca untuk menuju ke teluk ini sekitar 3,5 jam, namun karena masih sangat pagi akan lebih cepat sampainya. Tepat sekitar jam 6 kami mulai menuju ke Gudang Garam (nama daerah terakhir dari travel ini).
Keluar dari pelabuhan Bakauheni saya sangat terpesona sama pemandangan pagi itu apalagi ketika tanjakan yang dekat menara Sieger. Cantik banget fajar Lampung waktu itu. Karena sudah tidur puas di kapal penyeberangan tadi, mata saya ga terpejam sama sekali ketika menuju Gudang Garam itu. Sekitar jam 8 kami sudah sampai di Gudang Garam kemudian dilanjut dengan angkot kecil menuju teluk atau ke pantai Klara. Waktu itu saya dan lainnya belum tau harus kemana dulu untuk mengakses pulau-pulau tersebut. Namun bekal informasi yang kami punya untuk ke pulau Klagian bisa melalui pantai Klara dengan perahu. Pantai Klara (Klapa rapat) ini biasa dilintasi oleh wisatawan yang akan menuju ke teluk Kiluan. Dengan ongkos dua ribu per orang angkutan ini membawa kami, masih sekitar 30 menit perjalanan. Di tengah perjalanan si Ibu yang menemani kami tadi turun dan sudah pesan ke pak supirnya untuk menurunkan kami di Klara.

Sampai di Klara sekitar jam 9 siang yuhuiiii.... Sampai di sana disambut oleh jejeran pohon kelapa serta saung-saung yang disewakan untuk pengunjung. Akhirnya kami memilih saung yang agak ke ujung sebelah kanan agar lebih tenang. Untuk menyewa saung ini kami membayar sepuluh ribu sepuasnya. Saung ukuran 2meter x 2meter menjadi tempat istirahat kami sambil menikmati pantai Klara. Nampak air laut yang tenang dengan air bergradasi biru serta nampak di kejauhan pulau Klagian. Sambil main-main air saya sempat bertanya-tanya dengan pemilik perahu yang menawarkan jasa untuk ke pulau Klagian. Untuk mencapai pulau Klagian itu butuh sekitar 15 - 20 menit dengan biaya 20 ribu per orang. Lalu saya juga sempat menanyakan informasi pulau lainnya dan ternyata untuk menuju pulau-pulau tersebut harus menggunakan perahu yang berada di pelabuhan Ketapang.

Setelah puas bermain air kami sempat makan siang di pantai itu sambil menunggu badan kering. Jajaran penjaja makanan banyak di pantai Klara namun yang menjual makanan berat yg ada nasinya tak banyak. Untungnya ada satu warung yg menjual nasi rames. Nasi putih ayam goreng sayur asem lahap kami habiskan... secara pada ga sarapan.

Selesai makan kamipun melanjutkan perjalanan kami ke dermaga Ketapang, bertanya sama petugas pantai Klara ternyata dermaga Ketapang jaraknya hanya 1 km dari pantai Klara. Hohohoooo jarak yang nanggung akhirnya kembali kami nyetop angkot yang bentuknya seperti mobil pick up namun ada penutupnya, bayar 5000 dan dikembalikan 3000 itu ongkos dari pantai Klara ke dermaga Ketapang.

Sesampainya di dermaga Ketapang kami mulai susur bertanya ke orang-orang sekitar untuk menanyakan informasi sewa perahu. Dari mulai perahu jukung sampai perahu wisata (mereka biasa menyebutnya) dengan harga yang bervariasi pula. Tak hanya satu sumber saja tapi ke beberapa pemilik perahu untuk bandingin harga serta keamanan mengingat untuk hopping island. Di depan dermaga persis ada satu kapal yg sedang sibuk menaikkan motor-motor ke atas kapal serta menaikan barang-barang serta penumpang. Sambil motret sayapun bertanya ke salah seorang bapak yang ternyata bertanggung jawab pada kapal itu. Ternyata kapal itu merupakan kapal regular yang menuju ke pulau Pahawang. Sedangkan untuk tarifnya 15 ribu per orang dan kapal bisa muat sekitar 20-25 orang kemudian biasanya dalam sehari kapal dua kali bolak balik dari dermaga Ketapang ke pulau Pahawang. Obrolan saya dengan si bapak ini berlanjut di warung nasi. "Lahh pak itu yang di kapal ga apa ditinggal? "ujar saya. Ternyata masih ada penumpang yang minta ditunggu.

Cukup lama kami di dermaga itu sekitar sejam lebih, sambil bungkus bekal untuk makan malam (buat jaga-jaga siapa tau ga ada yang jualan di pulau Pahawang) obrolan dengan si bapak berlanjut. Pak Arsali namanya, saya menjelaskan tujuan kami yaitu mengunjungi pulau Pahawang dan pulau - pulau sekitarnya. Setelah ngobrol cukup panjang sampai deal untuk menyewa kapal tersebut si bapak ini bilang kebetulan saya kepala dusunnya nanti bisa nginap di rumah saya saja, tapi seadanya ujar si bapak. Huaa kami girang banget ketemu bapak yang baik ini. Bisa diantar ke pulau Pahawang saja kami sudah senang dan sangat berterima kasih. Sekitar jam satu lebih kami naik kapal tersebut bersama penumpang lainnya, hebat di atas kapal bisa ada 6 motor. Perjalanan dari dermaga Ketapang menuju pulau Pahawang sekitar 1 jam. Ok panas yang terik ditambah angin sepoi-sepoi... dan dalam kondisi perut kenyang, ngantuklah kami.

Sekitar jam setengah tiga kami sampai di pulau yang bernama Pahawang. Pulau dengan kontur seperti bukit tinggi ini pulau yang berpenduduk. Pulau Pahawang adalah pulau yang terletak di Teluk Lampung di kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung, Indonesia. Sampai di dermaga pulau Pahawang ada pendopo sepertinya tempat balai pertemuan warga Pahawang. Sambil menunggu bapak Arsali menurunkan isi di kapalnya saya sempat motret anak-anak kecil yang sedang bermain di dermaga Pulau Pahawang. Kemudian kami lanjut ke rumah pak Arsali yang jarak dari dermaga hanya 50 meter, bangunan dinding bata merah tanpa cat itulah rumah saya ujar pak Arsali. Berkenalanlah kami dengan istri pak Arsali dan anaknya, cukup lama ngobrol di rumahnya ini sampai hampir setengah empat, kesan ramah dan hangat yang kami rasakan saat itu. Kemudian kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pulau itu.

Berjalan -jalan di pulau Pahawang sore itu kami mencoba ke arah barat pulau. Hanya sekitar dua puluh rumah kami lewati dan setelahnya yang terlihat hanya kebun - kebun kopi serta hutan bakau di sisi pantainya, namun jalanan dengan lebar kurang lebih dua meter itu sudah sangat baik. "Jalan konblok ini sudah dibuat sampai memutari pulau" ujar istri pak Arsali. Setelah berjalan hampir setengah jam kok ndak menemukan apa-apa selain bapak-bapak yang sedang mencari buah kopi sebelum diambil biji di dalamnya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali arah dan bermain di dermaga.

Suasana dermaga sore itu makin menarik... beberapa anak kecil masih dengan asyiknya main lompat - lompat dari dermaga ke laut, dan yang lebih besarnya lagi sekitar SD kelas 6 sudah pada rapi habis mandi dan menenteng sarung siap-siap untuk ke masjid. Karena masih sekitar jam 4 lewat kami memutuskan untuk snorkeling di sekitar dermaga.


Snorkeling di pulau Pahawang ini bisa dibilang lumayan bagus untuk ukuran pulau berpenduduk, tidak kotor dan karang juga masih tidak sulit dijumpai. Visibilitynya 75 persen OK sore itu , yaa mungkin karena sudah sore juga tidak ada sinar matahari yang terik. Perlengkapan snorkeling ini kami bawa sendiri, kebetulan pak Arsali punya satu life vest jadi bisa digunakan teman saya. Perlu diketahui kalau pulau-pulau di teluk Lampung ini bisa dibilang bukan tempat wisata seperti di Kepulauan Seribu jadi fasilitas masih sangat minim. Terkecuali di pulau Klagian, di situ ada penyewaan life vest walau tak banyak serta wisatawan bisa main canoeing di pulau Klagian.



Setelah puas ber snorkeling di sekitar dermaga pulau Pahawang kami kembali ke rumah Pak Arsali. Malam harinya kami makan malam bersama keluarga Pak Arsali, Sebelumnya makana ini sudah kami beli di Dermaga Ketapang siang sebelum menuju pulau Pahawang. Namun istri Pak Arsalipun sdh menyiapkan makanan juga buat kami, aduhh baik sekali keluarga ini. Makan malam ini pun makin seru ketika pak Arsali mulai bercerita tentang kehidupan di Pulau Pahawang, mulai dari kebaikan seorang dermawan (orang bule yang punya pulau pahawang kecil) sampai cerita tentang banyaknya nelayan pencari ikan yang masih suka menggunakan cara yang dilarang. "Kemarin juga ada yang baru mati karena ngebom pas nyari ikan" ujar si ibu. Kesempatan mengobrol, bertanya ini itu dengan penduduk setempat memang sangat menyenangkan buatku.

Selesai makan malam aku dan yang lainnya berjalan ke arah dermaga untuk sekedar menikmati suasana malam di pulau Pahawang. Tenang, sunyi, taburan bintang suasana di malam itu. Dengan membawa sleeping bag, tripod, kamera, kartu, dan snack, malam itu kami memutuskan untuk nongkrong di dermaga sambil main kartu. Sekitar dua jam kami berada di dermaga, karena mengantuk akhirnya kami kembali ke rumah untuk beristirahat karena besok kami akan hooping island mengelilingi beberapa pulau di teluk Lampung ini untuk bersnorkeling.

Pengeluaran yang telah dikeluarkan dalam dua hari ini :
  • Bis Jakarta - Merak AC (3-4 jam) : Rp. 17.000
  • Kapal Ferry Merak - Bakauheni (4-5 Jam) : Rp. 11.000
  • Travel Merak - Gudang Garam (Teluk) (2-3 Jam) : Rp. 35.000
  • Angkot Gudang garam - Pantai Klara (15 Menit) : Rp. 5.000
  • Makan Siang di Pantai Klara : Rp. 11.000
  • Tiket Masuk Pantai Klara : Rp. 3.000
  • Toilet Bilas habis snorkeling di Pantai Klara : Rp. 2.000
  • Sewa Saung : Rp. 5.000 ( Harganya 20.000 dibagi empat orang )
  • Angkot Pantai Klara ke dermaga ketapang (1 menit) : Rp. 1.000
  • Beli Bekal Makan Malan  dan beli minuman : Rp. 15.000
  • Perahu Nyebrang ke pulau Pahawang : Rp. 15.000 (gratis)
Total pengeluaran Rp. 105.000
Cerita lanjutannya nanti lagi ya... :D
Dokumentasi Underwater Pulau Pahawang :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150859182104005.419571.571799004&type=3
Dokumentasi Wara - wiri di teluk lampung :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150851522504005.418833.571799004&type=3
Pulau Condong :
http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150856695504005.419352.571799004&type=3

Salam Flashpacker
 print this page Print this page
Read more...

Ketenangan di Pesonanya Nusa Lembongan Bali

0 komentar
Untuk kesekian kalinya kakiku menginjak pulau Dewata ini. Kalau lagi ingin travelling yang tidak mau direpotkan atau dibingungkan mengenai fasilitas serta keindahannya, Pulau Bali lah jawabanku. Rencana untuk ke Pulau Bali ini sudah direncanakan dari tahun 2011 karena ada promo salah satu maskapai penerbangan. Berangkat bersama Mbak Endang dan Mas Bayu dari Jakarta. Sebenarnya Perjalanan di Bali ini banyak tempat yang kami kunjungi, tapi kali ini mau coba sharing cerita perjalanan ke Nusa Lembongan.

Nusa Lembongan terletak di sebelah timur Pulau Bali. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari kawasan wisata Sanur, Denpasar. Untuk berwisata ke Nusa Lembongan bisa dilakukan dengan berbagai transportasi laut dan harganya juga bervariasi. Pagi itu sangat cerah kami dari UBUD menyewa mobil menuju ke Pantai Sanur. Sekitar jam 10 pagi kami tiba di Pantai Sanur, waktu yang tepat untuk berlayar ke Nusa Lembongan melalui pelabuhan rakyat. Pelabuhan rakyat Sanur, letaknya di sebelah utara Hotel Inna Grand Bali Beach, Jl Hang Tuah, Sanur, Denpasar.

Kapal Penyebrangan Sanur Bali - Nusa Lembongan
Di kawasan ini, terdapat beberapa penyewaan kapal untuk berlayar ke Nusa Lembongan. Di antaranya, Optasal Office Tiket Boat to Lembongan Island yang berada persis di pertigaan ujung jalan Pantai Sanur. Jika penumpang di lokasi ini sudah penuh, Anda bisa menyusuri jalan setapak ke arah selatan, tempat beragam art shop yang berjajar di sepanjang jalan. Sekitar 100 meter, terdapat beberapa loket penjualan tiket berlayar ke Nusa Lembongan, seperti Rocxy Lembongan Cruises, Lembongan Fast Cruises, dan Maruti Lembongan Xpress. Untuk biaya tiket fast boat ini Rp 50.000,- per orangnya untuk wisatawan domestik sedangkan Rp 75.000,- ribu bagi wisatawan mancanegara. perjalanan dengan speed boat ini bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Daya tampung penumpang speed boat maksimal 20 orang.

Pagi itu kami mencoba dengan Public boat. Penyeberangan ke Nusa Lembongan berselang setiap satu jam di masing-masing jasa penyewaan boat. Penyeberangan paling awal pukul 08.00 wita dan paling akhir pukul 16.30 wita. jika menyeberang dengan public boat ditempuh dalam waktu 1 jam 40 menit. jika menyeberang dengan public boat atau slow boat seharga Rp 30 ribu. Public boat dengan ukuran yang lebih besar dan panjang mampu menampung penumpang hingga 40 orang. Jika traveling sehari, setiba di Nusa Lembongan, langsung booking speed boat untuk jadwal terakhir ke Sanur. Jika terlambat, Anda tidak akan mendapatkan jadwal keberangkatan sehingga harus bermalam di pulau eksotik ini.

Waralla... Di Public boat ini hanya kami penumpang domestik yang lainnya wisatawan mancanegara. Papan surfing, gitar dan tumpukkan tas ransel juga melengkapi isi boat ini. Ke Nusa Lembongan ini ga ada di rencana kami sebelumnya jadi untuk penginapan serta di sana ada apa saja baru kami cari tau di hari sebelumnya. Bermodalkan majalah yang mengulas tentang Nusa lembongan - Nusa Ceningan - Nusa Penida serta googling informasi lainnya kami makin mantap untuk destinasi di hari itu adalah pulau di sebelah timur Bali ini.

Penginapan di Nusa Lembongan
Penginapan kami mendapatkan rekomendasi dari Buku Lonely Planet yaitu Tarci Bungalow yang kami booking melalui telepon dan untungnya ada kamar tersisa satu. Tanpa berpikir panjang saya langsung booking dan bertanya tentang lokasi penginapannya, setelah dijelaskan ternyata kami harus mencari boat menyebrang dari Sanur ke Lembongan yang berhentinya di Jungut Batu. Setibanya di Jungut Batu nanti akan ada pegawai penginapan yang menjemput.

Tarci Bungalow & Agus Bar Restaurant berlokasi di Jungut batu Nusa Lembongan Bali Indonesia Telp. +62 812 390 6300 atau 0812 390 6300. Dengan fasilitas Tarci Bungalow yang kami dapatkan penjemputan dari pelabuhan, bed ukuran 2 orang dan 1 extra bed (1 double bed + 1 single bed), toilet dalam (tidak ada air panas), 3 buah handuk dan sabun, kipas angin, serta sarapan 3 orang, untuk ini kami hanya membayar Rp 150.000,- ini sepertinya bukan harga biasanya karena seharusnya kami booking untuk yang kamar AC namun ketika sampai di sana ternyata pihak Tarci meminta kita dengan kamar yang lain dikarenakan ada kesalahan. Tapi untuk harga normal kami Rp 200.000,- Letak penginapan Nusa Lembongan hampir semua di pinggir pantai, bagus kalo sunset.

Informasi penginapan di Nusa Lembongan lainnya bisa dilihat disini: http://www.walkaboutindonesia.com/nusalembongan.htm
Sesampainya di penginapan saya langsung mencari informasi mengenai boat yang bisa disewa untuk aktivitas snorkeling ke esokan harinya serta ingin menyewa sepeda motor untuk berkeliling di Nusa Lembongan dan menyebrang ke Nusa Ceningan. Untuk sewa motor bisa ngomong langsung ke pegawai penginapan untuk dicarikan motornya. di hari itu kami menyewa dua motor dimana untuk satu motornya dikenakan 40 ribu seharian dengan BBM yang sudah terisi.

Obyek Wisata Nusa Lembongan - Nusa Ceningan - Nusa Penida
Nusa Lembongan yang merupakan salah satu objek wisata di Bali, yang menjadi tujuan liburan wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan Pantai di Nusa lembongan dan biota bawah lautnya begitu menakjubkan. Dengan bentangan pantai berpasir putih, air laut yang jernih dan keindahan terumbu karang beserta biota laut yang ada di dalamnya sangat cocok sekali untuk wisata diving, snorkeling begitu juga untuk selancar/ surfing.

Nusa Lembongan yang masih sangat alami ini sangat pas jika kita berkeliling menikmati panorama alam dan desa dengan bersepeda motor. Alat transportasi masih sangat terbatas. Tidak ada satupun mobil pribadi, tampak beberapa rombongan wisatawan yang mengendarai sepeda motor melaju pelan di tengah desa. dan terlihat juga beberapa mobil penumpang bak terbuka yang diperuntukkan sebagai alat trasportasi mengajak wisatawan berkeliling. Wisatwan bisa sekedar jalan-jalan di tepi pantai, melihat perkampungan dengan pembudidayaan rumput laut, mengunjungi Gala-gala yaitu rumah bawah tanah (Underground House), goa sarang burung walet Batu Melawang, Mushroom Beach & Devil's Tear, Mencoba Wall Cliff Jump di Blue Lagoon atau Mahana Point Nusa Ceningan, pantai-pantai yang menarik dan terkenal di Desa Lembongan antara lain seperti Pantai Tanjung Sanghyang, Dream Beach, Selagimpak, Selambung, Sunset Beach, Pemalikan, Lebaoh (pantai pusat rumput laut) dll.

Mata pencaharian utama masyarakat Nusa Lembongan adalah sebagai petani rumput laut. Sebagian lagi bekerja di sektor pariwisata dan sektor penunjang pariwisata. Nusa Lembongan terbagi menjadi dua desa yakni Desa Lembongan dan Desa Jungubatu. Desa Lembongan membawahi 6 dusun dan 12 banjar adat, yang wilayahnya berada di dua pulau yakni sebagian besar Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Keenam dusun yang menyokong Desa Lembongan yaitu; Dusun Kawan, Kaja, Kelod, Kangin, Ceningan Kawan dan Ceningan Kangin (dua dusun terakhir terletak di Nusa Ceningan).

Siang itu kami berkeliling, nah... sebenarnya di antara kami bertiga yang bisa mengendarai motor hanya mbak Endang, sedangkan Mas Bayu dan aku pernah mengendarai motor tapi hanya sekedar pernah coba. Karena keterpaksaan akhirnya aku satu motor dengan mbak Endang dan Mas bayu mengendarai motor sendiri. Dan Mbak Endang meminta aku untuk mengendarai motor yang satunya, wohowwww jadi belajar motor di Nusa Lembongan :D . Siang itu kami mencari rumah makan yang halal dan ternyata tutup kemudian lanjut menanjaki bukit sampai deg deg an bawa motornya karena tanjakan dan apalagi kalau ber pas pas an dengan mobil atau motor lain.

Bukit Nusa Lembongan
Sesampainya di atas bukit Nusa Lembongan kami berhenti sejenak melihat indahnya pemandangan dari atas bukit. Nampak juga sebuah saung yang di depannya menjual kalung, gelang dan kerajinan tangan lainnya. Beruntungnya kami menemukan tukang baso, seperti biasa bertanya halal atau engga dan harganya juga. "Saya Muslim Mbak asli Jawa, jadi halal kok basonya" kata si tukang baso. Baso disini agak lucu selain ada baso, mie, bawang goreng, seledri, tahu, ada juga lontongnya. Menikmati baso sambil ngobrol sama penjual kerajinan tangan di saung atas bukit itu. Untuk seporsi basonya harga Rp 5000 saja.

Jembatan penghubung Nusa Lembongan - Nusa Ceningan
Melanjutkan perjalanan kembali kami melintasi sisi timurnya Nusa Lembongan yang menghadap Nusa Ceningan. Kami bertanya arah ke Nusa Ceningan ke penduduk lokal yang kami lewati. Yang ternyata hanya mengikuti jalan lurus saja, tanpa belok, sampai keliatan jembatan kayu kuning, itulah jembatan penghubung Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Pemandangan di sini tak kalah cantik juga, persawahan rumput laut. Kami berhenti di depan warung untuk membeli minum, habis makan baso pedas belum minum :D , di depan warung ini ada halaman dengan pohon serta bangku-bangku yang terbuat dari semen, pas dehhh duduk - duduk sambil menatap pemandangan di situ.

Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan terpisah sekitar 500 meter dan disatukan dengan jembatan kuning. Tetap narsis tiada tara turunlah kami dari motor untuk berfoto sejenak di jembatan itu. Nusa Ceningan adalah sebuah pulau kecil yang merupakan salah bagian satu pulau dari tiga gugusan kepulaun di Nusa Penida,  terdiri dari 2 dusun yaitu dusun Ceningan Kawan dan dusun Ceningan Kangin, dengan jumlah penduduk 1523 jiwa dari 300 KK, yang tersebar di 6 Banjar Adat yaitu Banjar Adat Parangan tengah, Ambentiying, Ceningan Tengah, Anggrek, Batumelawang dan Gili Mekar Nadi.

Pura-pura di Nusa Ceningan
Keberadaan tempat - tempat suci ( Pura ) di Nusa Ceningan, di ujung paling timur terdapat Pura Batu Banglas/ Goa Raja, di sebelah utara Pura Bakung, Sebelah Selatan Pura Dalem Buhu, di sebelah barat Pura Batumelawang dan di tengah adalah Pura Tri Adi Sakti, dan masih terdapat lagi Pura Ceng Mundi Raja Peni, Pura Wayah Dalem Majapahit, Pura Pesamuan Lawang Sari dan Pura Payogan Manik Gumulung semua pura ini mempunyai sejarah dan cerita tersendiri jika dikaitkan dengan keberadaan dan sejarah pulau Ceningan dan Nusa Penida. Hampir 95% masyarakatnya merupakan petani rumput laut.

Wall Cliff Jump Mahana Point Nusa Ceningan
Akhirnya sampailah kami di Wall Cliff Jump di Mahana Point, di Nusa Ceningan ini banyak spot untuk terjun bebas dari atas batu karang ke dalam laut. Di Mahana Point ini tempat loncat dari ketinggian 15 meter dengan kondisi ombak laut yang sangat luar biasa. Hohohooooo nyali kami menciut dibandingkan para wisatawan mancanegara yang bolak balik loncat dan kami hanya bisa motret dan melihat mereka saja. Di tempat ini juga terdapat sebuah restoran untuk bersantai dengan fasilitas yang lumayan untuk menghabiskan waktu di sini.

Setelah berlama-lama di sini kami memutuskan untuk kembali ke Nusa Lembongan untuk mengejar sunset. Mencari spot yang namun ndak tau dimana akhirnya kami kembali ke penginapan dan bermain di depan pantai tepat depan penginapan. Ternyata penginapan kami menghadap ke arah barat sehingga menikmati sunset dari sepanjang pantai itu pun sudah sangat menarik. Nampak beberapa anak kecil menawarkan kerajinan tangannya seperti kalung dan gelang yang mereka bawa-bawa dengan menggunakan dus styrofoam besar.

Petani Rumput Laut Nusa Lembongan
Berjalan sendiri ke arah barat saya menemukan petani sedang memilih rumput laut yang baru saja diambil dari laut. Mereka sedang memilih kualitas rumput laut, lalu mempersiapkannya untuk dijual. Tiap hari, mereka bisa bekerja sampai lima jam di dalam air laut. Misalnya ngecek rumput laut, memasang tali, menghilangkan penyakit atau gulma di ladang rumput laut, memasang bibit, dan memanen. Nilai jualnya mencapai Rp 6.000 per kilo gram untuk rumput laut kering.

Untuk mendapatkan jenis rumput laut kering harus melewati beberapa tahap proses yaitu proses pengeringan selama 4 sampai 5 hari jika cuaca cukup medukung. Saat ini petani hanya memperhatikan berat rumput laut saat dijual. Padahal ada beberapa hal penting lain yang mempengaruhi kualitas rumput laut, yakni kebersihan dan keutuhan. Rumput laut yang dijual petani masih kotor, berpasir dan lainnya. Hal itu terjadi akibat sistem penjemuran masih dengan sistem terpal. Bahkan langsung di halaman yang hanya dilapisi semen. Cara penjemuran ini tergolong cara yang masih tradisional.

Padi Dive Center
Berjalan lagi saya menemukan Padi Dive Center mampir sejenak untuk sekedar bertanya-tanya tentang dive di Nusa Lembongan ini, whaaa ternyata spotnya banyak juga mulai dari liat Coral Garden, manta point, sampai spot untuk liat ikan mola-mola. Beruntungnya aku dikasih liat beberapa foto dan video hasil penyelaman hari itu. woww... mantab pokoknya.

Sunset Nusa lembongan
Berjalan lagi akhirnya menemukan restoran yang di menunya tak ada hidangan yang tidak halal, horeee jadi juga nech makan malam enak... Akhirnya memanggil mbak Endang dan Mas Bayu untuk ke restoran itu. Dengan konsep restoran beratapkan langit di pinggir pantai kami terbengong menatap sunset di hari itu. Subhanallah... senja di hari ulang tahunku ini cantik sekali... deretan deretan perahu yang parkir, semburat awan, langit ke unguan, mantaplah..

Menu makanan yang kami pesan selain jus kami pesan steak, salad, sampai banana split sebagai kue ulang tahunku hohohohooo.... tetap lho... sampai makan malampun tak ada wisatawan domestik yang terlihat. Cukup lama kami menghabiskan waktu disini hingga senjapun berlalu, kembali menyusuri pantai ke arah timur kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat.

Karena kamar mandi hanya satu jadi aku mengambil kesempatan untuk menikmati bintang malam dengan berenang di kolam renang yang terdapat di restoran depan kamar penginapan. Weww serasa kolam renang pribadi, cuma sendiri euy... sedangkan penghuni kamar lainnya asyik bernyanyi, bercanda, ngobrol di restoran. Sempat tertidur pula di kursi santai kolam. Sekitar hampir dua jam baru masuk ke kamar untuk mandi dan tidur.

Hopping Island - Snorkeling
Subuh tiba setelah sholat shubuh aku bergegas keluar kamar untuk menantikan sunrise, emmm lupa kalau penginapan menghadap ke barat alhasil tak nampaklah itu matahari pagi. Aktivitas di pagi hari ternyata banyak petani rumput laut yang sedang bekerja, air lautpun terlihat surut. Dihampiri aku oleh si bapak yang menawarkan boat untuk hopping island kami pagi itu. Untuk satu kapal kami mendapatkan harga Rp. 400.000,- cukup mahal untuk ukuran bertiga tapi sebenarnya kapal bisa diisi sampai 5 orang.

Tawaran spot yang akan dikunjungi untuk snorkeling kami ada 4 spot Crystal Bay, Gamat Bay, Gamat Wall, dan Mangroove bay sedangkan spot yang lainnya yang agak jauh seperti Spot Ikan Mola-mola dan Manta ray harus merogoh kocek lagi. Apa saja hampir bisa dilihat di perairan yang jernih area Nusa Penida ini, ikan angel batmen, gerombolan ikan-ikan damsel, ikan buntel,ikan kakaktua, ikan cakalang. Pada musim panas bulan Juli, Agustus, September dan Oktober temperatur air bisa sangat dingin, yappp jadilah kami snorkeling di air yang sangat dingin. Ini pertama kalinya aku snorkeling di air yang sedingin ini.

Di kawasan Nusa Penida terdapat beberapa obyek wisata dan tempat rekreasi . Rekreasi wisata tirta yang sangat menarik untuk dinikmati adalah wisata bahari dengan terumbu karangnya yang indah dengan jenis ikan yang beraneka ragam. Perairan pulau Nusa Penida terkenal dengan kawasan selamnya di antaranya terdapat di Penida Bay, Manta Point, Batu Meling, Batu Lumbung, Batu Abah, Toyapakeh dan Malibu Point. Laut di sekitar Nusa Penida memang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat menarik. Itu sebabnya, setiap tahun, puluhan ribu penyelam dan snorkeler datang dari penjuru dunia untuk menikmati keindahan bawah laut Nusa Penida. Di samping terumbu karang yang berwarna-warni dengan aneka jenis ikan karang, perairan Nusa Penida juga rumah bagi hewan laut langka seperti pari manta (manta ray), penyu, paus dan lumba-lumba.

Ikan Mola-Mola
Namun di antara semuanya itu, ikan mola-mola (oceanic sunfish) merupakan hewan laut yang menjadi ikon bagi dunia bawah laut Nusa Penida. Bentuknya yang unik, besar di bagian kepala dengan mata jenaka dan dua sirip yang menjulang seperti tanpa ekor sangat menarik bagi para penyelam. Terlebih ketika mola-mola mendongakkan kepalanya dan merentangkan kedua siripnya seperti layaknya sedang melakukan tarian penyambutan bagi para penyelam. Mola-mola kerap muncul di perairan Nusa Penida sekitar bulan Juli - September setiap tahunnya. Dua titik penyelaman favorit dimana mola-mola biasa dijumpai yaitu Blue Corner dan Crystal Bay. Sering mola-mola dijumpai bergerombol 2 sampai 8 ekor. Namun beberapa penyelam mengatakan bahwa mereka juga sesekali melihat mola-mola di titik penyelaman yang lain pada bulan Desember atau Januari. Namun sayang kali itu kami tak menjumpai ikan mola-mola.

Crystal Bay
Terletak di pantai Penida sangat eksotis sekali, selain air yang jernih dan pantai berpasir putih juga sering digunakan untuk tempat rekereasi dan mandi. Ini juga memiliki pemandangan bawah laut yang indah sangat cocok sebagai snorkeling atau menyelam dan memancing. Crystal Bay adalah lebih tenang dari pantai luar. Ada sekolah dari Anthias. Sebuah gua kelelawar yang terletak di dekatnya.

Di Crystal Bay juga ada dive site menyelam. Penyelaman sistem gua bawah laut dimulai sekitar 10m dari air dan berakhir di dalam sebuah lubang di gua kelelawar. Lokasi terletak di sana sangat bagus laguna pantai berpasir putih.  Ikan hidup di sini sangat kaya dan kadang-kadang Sunfish dan Nurse Sharks bersembunyi.

Mangroove Point
Spot Snorkeling di sini dangkal, 5 sampai 10m mendalam dan menawarkan jenis karang lunak dan keras. Karang kaya dengan berbagai jenis ikan karang. pengalaman di spot ini ikannya yang sangat banyak mengerumuni badan kita.


Gamat Wall
Yap... lokasi ini yang membuatku sangat berkesan sekali. Selain airnya yang masih dingin ternyata arus di sini sangatlah kuat. Kami sengaja diturunkan dari boat agak jauh dari penjemputan nanti, si bapak bilang nanti kalian akan terbawa arus sampai ke sebelah sana jadi jangan berenang melawan arus. Ketika menyebur pemandangan laut tak kalah menariknya cantik dan sangat sulit difoto karena kita terbawa arus. Ikan merah kecil sangat banyak sekali, karang-karang yang berwarna-warni bikin pingin berdiam lama di situ namun apa daya karena badan terbawa oleh arus yang kuat.


Sekitar jam dua belas kami selesai snorkeling dan kembali ke penginapan untuk mandi dan check out. Ohh iya.. di penginapan kami ada ayam yang unyu banget. Berkokok tak henti henti serta berjalan geal geol :D . Selesai kami packing dan mandi kami diantar oleh pegawai penginapan untuk ke tempat kapal penyebrangan balik ke Sanur. Kali ini kami memilih speed boat rocky yang tiketnya sudah kami pesan di penginapan Rp. 50.000,- per orang dan dapat minum. Posisi kapal ini di dermaga Lembongan, sambil menunggu semua penumpang sekitar 20 orang terlihat beberapa kapal besar yang terkenal sport activitynya seperti Bounty Cruise, Quicksilver. Untuk mengikuti aktivitas di kapal ini harus mengeluarkan uang yang tak sedikit dan untuk menaikinya dari Tanjung Benoa Bali.

Berakhir pula perjalanan dua hari 6 dan 7 Oktober 2012 ngubek nusa Lembongan - Nusa Ceningan - Nusa Penida. Masih banyak yang belum dilihat disana, semoga diberi kesempatan untuk kembali ke sana. terima kasih buat Mbak Endang dan Mas Bayu yang sudah menemaniku di hari ulang tahunku :D

Read more...